0rq1wUCXofwDDKcc12MmRQUWFOZdiOoWTQwUhac9

Anak-anak Selesai Tes MBTI, Sebagai Guru Harus Ngapain?


sman1mesujitimur.sch.id - Anak-anak kelas X dan XII di Provinsi Lampung telah selesai mengikuti DSMART Karakter yang isinya adalah tes MBTI. Setelah hasilnya keluar, mungkin akan muncul berbagai reaksi. Ada yang langsung penasaran, “Saya tipe apa?” Ada yang sibuk membandingkan hasilnya dengan teman, “Eh, kita sama!” Ada juga yang mungkin langsung mencari di internet, “Kalau saya INFP, berarti saya cocok jadi apa?” Bahkan mungkin ada yang berkata, “Wah, saya Introvert. Pantas saya nggak suka presentasi!”

Nah, di sinilah sebenarnya perjalanan kita baru dimulai.

Tes MBTI sebaiknya tidak berhenti pada empat huruf yang kita dapatkan. MBTI bukan sekadar cara untuk mengetahui apakah kita INTJ, ENFP, ISFJ, atau tipe lainnya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana hasil tersebut membantu kita mengenali diri sendiri, memahami orang lain, dan menemukan hal-hal yang masih perlu kita kembangkan.

Jadi, MBTI itu sebenarnya apa?

Secara sederhana, MBTI dapat digunakan sebagai alat untuk melihat kecenderungan seseorang dalam empat hal: bagaimana kita mendapatkan energi, bagaimana kita menerima informasi, bagaimana kita mengambil keputusan, dan bagaimana kita menjalani aktivitas sehari-hari.

Empat pasangan tersebut adalah E–I, S–N, T–F, dan J–P.

Pertanyaannya sederhana: “Kalau kamu sedang menghadapi sesuatu, biasanya kamu lebih cenderung melakukan yang mana?”

E atau I: Kamu mendapatkan energi dari mana?

Ada anak yang setelah seharian sekolah masih ingin ngobrol, bercanda, berdiskusi, atau berkumpul dengan teman. Ada juga yang setelah pulang sekolah justru ingin berada di tempat yang tenang, menikmati waktu sendiri, atau memproses apa yang terjadi sepanjang hari.

Kecenderungan pertama disebut Extraversion (E), sedangkan yang kedua disebut Introversion (I).

Coba tanyakan kepada diri sendiri: “Kalau saya punya masalah, apakah saya biasanya ingin membicarakannya dengan orang lain terlebih dahulu, atau saya lebih suka memikirkannya sendiri sebelum berbicara?”

Perlu diingat, Introvert bukan berarti pemalu dan Extravert bukan berarti selalu percaya diri. Seorang anak yang cenderung Introvert tetap bisa menjadi pembicara yang hebat. Begitu juga anak yang cenderung Extravert tetap bisa merasa gugup ketika harus berbicara di depan banyak orang.

Jadi, jangan buru-buru mengatakan, “Saya Introvert, berarti saya tidak cocok menjadi pemimpin.” Bisa jadi justru kamu adalah pemimpin yang lebih suka berpikir matang sebelum mengambil keputusan.

S atau N: Kamu biasanya memperhatikan apa?

Ketika belajar sesuatu yang baru, ada anak yang lebih nyaman jika diberikan contoh nyata, fakta, dan langkah-langkah yang jelas. Ada pula yang justru tertarik pada konsep, pola, hubungan antaride, dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.

Kecenderungan pertama adalah Sensing (S), sedangkan yang kedua adalah Intuition (N).

Coba ingat ketika belajar matematika. Ketika guru memberikan rumus baru, apakah kamu lebih sering bertanya, “Pak, contoh soalnya bagaimana?” atau justru bertanya, “Pak, kenapa rumusnya bisa seperti itu?”

Tidak ada yang lebih baik.

Anak S mungkin kuat dalam memperhatikan detail dan fakta. Anak N mungkin kuat dalam melihat pola dan kemungkinan. Dalam sebuah kelompok, keduanya justru bisa saling melengkapi.

Bayangkan sebuah pohon. Anak S mungkin melihat tinggi pohon, bentuk daun, ukuran batang, dan kondisi di sekitarnya. Anak N mungkin mulai berpikir, “Pohon ini bisa dimanfaatkan untuk apa? Kenapa pohon ini tumbuh di sini? Bagaimana kalau dikembangkan menjadi sesuatu?”

Cara melihatnya berbeda, tetapi keduanya sama-sama penting.

T atau F: Bagaimana kamu mengambil keputusan?

Ketika harus mengambil keputusan, apakah kamu lebih dulu berpikir, “Apa yang paling logis?” atau “Bagaimana keputusan ini akan berdampak kepada orang lain?”

Kecenderungan pertama adalah Thinking (T) dan yang kedua adalah Feeling (F).

Anak dengan kecenderungan T biasanya lebih memperhatikan logika, fakta, sebab-akibat, dan konsistensi. Sementara anak dengan kecenderungan F cenderung mempertimbangkan nilai, hubungan, dan perasaan orang lain.

Misalnya, dalam sebuah kelompok ada anggota yang tidak mengerjakan tugas. Anak dengan kecenderungan T mungkin berpikir, “Kita sudah punya aturan. Kalau tidak mengerjakan, tentu ada konsekuensinya.” Sementara anak dengan kecenderungan F mungkin berpikir, “Kita cari tahu dulu kenapa dia tidak mengerjakan. Jangan-jangan ada masalah yang sedang dia hadapi.”

Apakah salah satunya lebih baik? Tentu tidak.

Dan satu hal penting: T bukan berarti tidak punya perasaan, sedangkan F bukan berarti tidak bisa berpikir logis. Semua orang menggunakan logika dan perasaan. Yang berbeda adalah kecenderungan mana yang lebih sering kita gunakan ketika mengambil keputusan.

J atau P: Bagaimana kamu menjalani aktivitas?

Sekarang coba pikirkan tentang tugas sekolah yang dikumpulkan hari Jumat.

Ada anak yang merasa lebih tenang jika tugas tersebut langsung dibuatkan rencana. “Hari ini mulai, besok lanjut, Kamis selesai. Jumat tinggal mengumpulkan.” Ini merupakan kecenderungan Judging (J).

Ada juga yang merasa, “Masih Jumat. Nanti saya kerjakan. Saya lebih suka melihat situasinya dulu.” Ini merupakan kecenderungan Perceiving (P).

Anak J biasanya lebih nyaman dengan struktur, jadwal, target, dan kepastian. Anak P biasanya lebih nyaman dengan fleksibilitas, spontanitas, dan pilihan yang masih terbuka.

Sekali lagi, P bukan berarti malas dan J bukan berarti selalu rajin. Ada anak P yang sangat bertanggung jawab, hanya saja ia bekerja dengan cara yang lebih fleksibel. Ada pula anak J yang sangat teratur, tetapi tetap bisa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas.

Lalu, bagaimana dengan 16 tipe MBTI?

Ketika empat kecenderungan tadi digabungkan, kita mendapatkan 16 kombinasi. Misalnya INTJ, INTP, ENFP, ESFJ, ISTP, dan sebagainya.

Ada tipe yang cenderung strategis dan suka merencanakan seperti INTJ. Ada yang analitis dan senang mencari tahu seperti INTP. Ada yang kreatif dan penuh ide seperti ENFP. Ada yang peduli terhadap kelompok seperti ESFJ. Ada yang praktis dan suka memecahkan masalah seperti ISTP. Ada pula yang terorganisasi seperti ESTJ, visioner seperti INFJ, atau energik dan spontan seperti ESFP.

Namun, jangan berhenti pada deskripsi tersebut.

Jangan sampai seorang anak membaca, “Saya INFP,” kemudian menyimpulkan, “Berarti saya memang seperti ini dan tidak bisa berubah.”

Justru sebaliknya.

Hasil MBTI sebaiknya menjadi sebuah pertanyaan baru: “Apakah deskripsi ini benar-benar menggambarkan saya?”

Kalau iya, bagian mana yang paling terasa? Kalau tidak, bagian mana yang berbeda?

Di sinilah refleksi menjadi lebih penting daripada hasil tes itu sendiri.

Jadi, setelah anak-anak selesai tes MBTI, sebagai guru harus ngapain?

Jawabannya sederhana: ajak mereka ngobrol tentang dirinya sendiri.

Jangan langsung mengatakan, “Kamu tipe ini, berarti cocoknya jadi ini.”

Lebih baik guru bertanya, “Menurut kamu, apa yang paling sesuai dari hasil ini?”

Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan, “Apa kekuatanmu yang selama ini mungkin belum kamu sadari?”

Lalu tanyakan lagi, “Apa kebiasaanmu yang justru ingin kamu perbaiki?”

Pertanyaan berikutnya bisa lebih dekat dengan kehidupan sekolah: “Bagaimana cara kamu belajar yang paling nyaman?”, “Apa yang biasanya membuat kamu kesulitan ketika bekerja dalam kelompok?”, dan “Kemampuan apa yang ingin kamu latih mulai sekarang?”

Dengan cara seperti ini, MBTI tidak hanya menjadi aktivitas tes, tetapi menjadi kesempatan untuk mengenal diri.

Bagaimana guru memanfaatkan hasil MBTI di kelas?

Hasil MBTI juga bisa membantu guru memahami bahwa setiap anak mungkin memiliki cara yang berbeda dalam belajar dan bekerja sama.

Ada anak yang membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Ada yang justru menemukan ide ketika berdiskusi. Ada yang membutuhkan contoh konkret sebelum memahami konsep. Ada pula yang baru tertarik ketika diberi kesempatan mengeksplorasi sebuah ide.

Apakah berarti guru harus membuat pembelajaran berbeda untuk setiap anak? Tentu tidak.

Justru ini menjadi pengingat bahwa pembelajaran yang baik sebaiknya memiliki variasi. Sesekali berikan waktu untuk berpikir sendiri. Di kesempatan lain, lakukan diskusi. Berikan contoh nyata, tetapi juga berikan pertanyaan terbuka. Berikan struktur, tetapi tetap sisakan ruang untuk kreativitas.

Dengan begitu, anak tidak hanya belajar sesuai dengan kecenderungannya, tetapi juga belajar mengembangkan kemampuan yang belum menjadi kekuatannya.

Bagaimana dengan kerja kelompok?

Nah, bagian ini juga menarik.

Bayangkan sebuah kelompok terdiri dari anak yang suka membuat strategi, anak yang penuh ide, anak yang teliti, dan anak yang pandai menjaga komunikasi.

Apakah mereka akan selalu sepakat?

Belum tentu.

Tetapi apakah mereka bisa menjadi kelompok yang kuat?

Sangat mungkin.

Anak yang suka membuat strategi dapat membantu menentukan arah. Anak yang penuh ide dapat memberikan alternatif. Anak yang teliti dapat memastikan pekerjaan tidak banyak kesalahan. Anak yang pandai berkomunikasi dapat menjaga agar semua anggota tetap terlibat.

Jadi, perbedaan bukan selalu masalah.

Kadang-kadang justru perbedaanlah yang membuat sebuah kelompok menjadi lebih kuat.

Coba tanyakan kepada anak-anak: “Kalau semua orang di kelas kita memiliki tipe yang sama, apakah kelas kita akan menjadi lebih baik?”

Mungkin jawabannya justru membuat mereka berpikir.

Bagaimana dengan kelas X dan kelas XII?

Untuk anak kelas X, hasil MBTI bisa menjadi momentum untuk mengenal diri.

Mereka sedang memasuki lingkungan baru dan mulai membangun kebiasaan belajar, pertemanan, serta cara berkomunikasi yang berbeda dari masa SMP.

Pertanyaan besarnya adalah:

“Saya seperti apa?”

Sementara untuk kelas XII, pertanyaannya bisa sedikit lebih jauh:

“Setelah mengenal diri saya, saya ingin berkembang menjadi seperti apa?”

Anak kelas XII tentu mulai memikirkan kuliah, pekerjaan, dan masa depan. Namun, MBTI tidak seharusnya digunakan untuk menentukan jurusan secara otomatis.

Misalnya, jangan mengatakan, “Kamu INTJ, berarti harus masuk Teknik Informatika.”

Pilihan pendidikan dan karier tetap perlu mempertimbangkan banyak hal: minat, kemampuan, nilai akademik, pengalaman, kondisi, tujuan hidup, dan kesempatan yang tersedia.

MBTI hanya bisa menjadi salah satu bahan untuk mengenali diri, bukan satu-satunya penentu masa depan.

Jangan sampai MBTI menjadi alasan untuk tidak berkembang

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Jangan sampai setelah tes ada anak berkata:

“Saya memang begini, Pak. MBTI saya begitu.”

Kalau itu terjadi, kita perlu mengubah cara berpikirnya.

MBTI seharusnya membuat anak berkata:

“Saya cenderung seperti ini. Saya bisa menggunakan kekuatan ini, tetapi saya juga perlu melatih bagian yang masih kurang.”

Anak yang cenderung Introvert tetap perlu belajar berkomunikasi.

Anak yang cenderung Extravert tetap perlu belajar mendengarkan.

Anak yang cenderung Sensing tetap perlu belajar melihat kemungkinan.

Anak yang cenderung Intuition tetap perlu belajar memperhatikan detail.

Anak yang cenderung Thinking tetap perlu belajar memahami perasaan orang lain.

Anak yang cenderung Feeling tetap perlu belajar mengambil keputusan secara objektif.

Anak yang cenderung Judging tetap perlu belajar fleksibel.

Anak yang cenderung Perceiving tetap perlu belajar mengatur diri dan menyelesaikan target.

Kita tidak ingin mencetak anak yang hanya nyaman dengan dirinya sendiri. Kita ingin membantu anak menjadi pribadi yang mengenal dirinya sekaligus mampu berkembang.

Pada akhirnya, apa manfaat tes MBTI bagi sekolah?

Mungkin bukan hasil “siapa mendapat tipe apa” yang paling penting.

Yang lebih penting adalah percakapan yang muncul setelahnya.

Anak mulai bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apa kekuatan saya?”

“Apa yang membuat saya nyaman?”

“Apa yang menjadi tantangan saya?”

“Bagaimana saya belajar dengan lebih baik?”

“Bagaimana saya bekerja dengan orang yang berbeda dari saya?”

Dan yang paling penting:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi versi diri saya yang lebih baik?”

Kalau setelah tes MBTI anak-anak mulai mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka tes hari ini bukan sekadar kegiatan mengisi kuesioner.

Ia telah menjadi sebuah proses mengenal diri, memahami orang lain, dan merancang pengembangan diri.

Untuk guru, mungkin inilah pesan terpentingnya:

Jangan gunakan MBTI untuk mengotak-ngotakkan anak. Gunakan MBTI untuk membuka percakapan dengan anak.

Karena tugas guru bukan mencari tahu “anak ini sebenarnya tipe apa?”

Tugas kita adalah membantu anak menemukan:

“Saya punya potensi apa, apa yang perlu saya kembangkan, dan saya ingin menjadi siapa?”

Dan mungkin, setelah hari ini, pertanyaan terbaik yang bisa kita berikan kepada anak-anak bukan lagi “Apa tipe MBTI kamu?”, tetapi:

“Setelah mengenal dirimu sedikit lebih baik hari ini, apa satu hal yang ingin kamu kembangkan dari dirimu?”

Selain melalui pltform DSMART, tes MBTI juga dapat diakses secara gratis melalui tautan: 

https://www.16personalities.com/id/tes-kepribadian 

Penulis: Debi Pranata dan AI 

Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar