0rq1wUCXofwDDKcc12MmRQUWFOZdiOoWTQwUhac9

Kilas Balik Via Kenang Momen Pembuktian Diri Menjadi Paskibra Mesuji Timur 2025

Momen Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia selalu membawa kesan mendalam. Momen kemerdaan 17 Agustus 2026 hari ini, ingatan saya mendadak kembali berputar ke satu tahun yang lalu — sebuah kenangan tak terlupakan saat saya berjuang dalam barisan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kecamatan Mesuji Timur tahun 2025.

Jika mengingat awal mulanya, rasanya masih sulit dipercaya. Jujur saja, saat pertama kali mendaftar seleksi, saya sama sekali tidak yakin bisa lolos. Bayangan saya waktu itu cukup mengerikan: seleksi ketat dengan uji langkah tegap maju dan variasi baris-berbaris yang rumit. Rasa ragu itu wajar, sebab semasa SMP saya tidak pernah berpartisipasi dalam lomba gerak jalan, belum pernah bertugas mengibarkan bendera saat upacara Senin, bahkan tak aktif di Pramuka.

Bahkan lebih dari itu, saya awalnya tidak berniat mengikut ekstrakurikuler apa pun. Keinginan saya sederhana: cukup datang ke sekolah, belajar di kelas, lalu pulang.

Namun, pandangan itu runtuh berkat cerita kakak saya. Beliau membagikan pengalaman seru dan pelajaran hidup berharga saat menjadi anggota Paskibra sewaktu SMA. Berbekal dorongan tersebut, saya nekat mencoba seleksi di tingkat kecamatan meski sadar kemampuan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) saya sangat minim. Tak disangka, takdir berkata lain: nama saya dinyatakan lolos sebagai Calon Pasukan Pengibar Bendera (Capas) Kecamatan Mesuji Timur 2025.

Perjuangan fisik dan mental pun dimulai sejak 1 Agustus 2025. Berlokasi di Lapangan depan Pusat Bisnis Desa Tanjung Mas Rejo, persis di samping kantor kecamatan, kami digembleng setiap hari.

Ternyata, apa yang diceritakan kakak saya benar adanya. Mengikuti Paskibra itu sangat menyenangkan, walau tentu ada suka dan dukanya. Di sana saya menemukan keluarga baru, ditempa menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, serta bertanggung jawab. Kami juga belajar arti solidaritas sejati. Ketika salah satu rekan mendapat hukuman fisik—mulai dari jalan jongkok, push-up, merayap, hingga guling botol—kami semua saling merangkul dan menanggungnya bersama. Tidak ada yang ditinggalkan.

Satu tahun telah berlalu sejak momen bersejarah itu. Namun, 17 hari penempaan di tanah Mesuji Timur tersebut akan selalu menjadi bagian terbaik dalam perjalanan hidup saya. Sebuah pembuktian bahwa keraguan di awal bisa berubah menjadi kebanggaan yang tak ternilai harganya. Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia!

Cerita dari Via Putri Anjani (XIF.1)

Editor: Humas

Related Posts
Debi Pranata
Math teacher and Education Enthusiast | Visit my blog debipranata.com - Let's connect!

Related Posts

Posting Komentar